Konfrensi Daerah IGTKI-PGRI Padang Pariaman

damsuar igtkiPariaman news online – Wakil Bupati Padang Pariaman,  Damsuar membuka Konferensi Daerah (Konferda) IGTKI-PGRI se Kabupaten Padang Pariaman.

Damsuar Wakil bupati Padang Pariaman menyatakan bahwa perilaku anak didik yang tidak lagi menghormati guru merupakan imbas dari tidak sesuainya perkataan dan perbuatan.

 “Saya melihat ada 4 hal yang terjadi di masa ini. Pertama, anak tidak lagi mengidolakan orang tuanya. Mereka malah mengidolakan superman, batman atau tokoh kartun yang tidak riil. Kedua, guru tidak lagi dihormati dan disegani oleh murid. Ketiga, Pemimpin tidak lagi diikuti oleh yang dipimpin, dan yang keempat, ulama tidak lagi diikuti oleh jemaahnya.”ujar Wabup Damsuar.

lebih jauh kata Damsuar, 4 hal tersebut terjadi karena tidak sesuainya perkataan dan perbuatan, oleh karena itu, selaraskanlah hal tersebut,” lanjutnya.

Damsuar mengatakan lagi bahwa bila nantinya dalam berkonferensi terjadi banyak perbedaan, ini merupakan hal yang wajar bahkan suatu keharusan.

Pemerintah Daerah sangat mengapresiasi diadakannya konferensi untuk kemajuan serta kesejahteraan guru-guru TK di Kabupaten Padang Pariaman.

Dia juga mengatakan bahwa bentuk perhatian Pemda kepada guru honor termasuk guru TK juga dituangkan dalam bentuk pemberian tunjangan Penghasilan Tambahan. “Insyaallah, Pemerintah Daerah akan membantu apa yang bisa kita bantu. Kita juga sudah merealisasikan adanya pemberian tunjangan penghasilan tambahan bagi guru-guru honor sebesar Rp.200.000/bulan. Namun, pemberian tunjangan tersebut ada standardisasinya, antara lain dari sisi kelembagaan, status guru , maupun proses belajar mengajar. Sehingga, kalau ada guru TK yang mengeluh belum mendapat bantuan, silahkan menghubungi pengurus IGTKI yang dipercaya dapat membantu mengurus masalah tersebut.” ujar Damsuar mengakhiri

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan yang diwakili oleh Defrizal  menjelaskan mengenai kondisi anak didik maupun guru, serta jumlah TK di Kabupaten Padang Pariaman. “Program nasional adalah satu Korong ada satu TK. Namun, di daerah kita ada 400 korong, jumlah TK baru 93 buah, jadi bisa dibayangkan masih jauh jumlah yang harus dipenuhi. Status guru pun begitu. Dari 308 jumlah guru TK yang ada, baru 136 yang PNS. Padahal, status guru nantinya akan bisa mempengaruhi kesejahteraan serta optimalnya proses belajar mengajar bagi anak-anak kita yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa.”
Acara yang diikuti 308 guru-guru TK ini tampak meriah dengan berbagai acara hiburan yang melengkapi seperti tari piring, tari pasambahan, qasidah maupun mars serta lagu IGTKI yang dinyanyikan oleh guru-guru TK tersebut. Dalam acara ini hadir antara lain ketua IGTKI tingkat Kabupaten, ketua IGTKI Provinsi, serta beberapa Kepala SKPD terkait. (*)