Lika-Liku Mencari Tuhan

Pencarian Panjang Tentang KETUHANAN

?????????????

,

Namaku Asrul Hendri, Lahir di Lembah Pekan Binjai 3 September 1963 nama ini diberikan oleh Metek ku bernama Bukhari  adik ibuku lain Ayah yang tinggal bersama ibuku di Binjai, menurut ibuku metek Eri memberi nama atas dasar kekagumannya pada Raja Henri yang sangat termashur kebaikan dan wibawanya namun demikian ibuku tetap memanggilku Buyung karena dia tidak ingin aku menjadi orang asing, usia ku 2 tahun kami pindah ke pulau Brayan dan tinggal di bekas sekolah SD di dekat stasiun KA namun kami tidak lama tinggal di Brayan karena kondisi keamanan tidak memungkinkan, setelah metek dan Tanteku pindah ke Pekanbaru aku kurang dapat perhatian lagi sehingga aku pernah kecebur sumur karena asik menangkap Capung di tepi sumur untunglah abangku M. Joni melihat dan menjerit sehingga ibuku yang kala itu di kamar terkejut dan berlari keluar untuk menyelamatkan diriku yang sudah membiru karena instingku menyuruh aku memahan nafas agar tidak masuk terminum air dan akhirnya kami pindah kembali ke Binjai dan tinggal di dekat Pajak Tavip kebunnya Nek Ijah yang dibeli ayahku.

Aku punya sifat selalu ingin tahu tentang alam semesta dan aku selalu mencarinya dimana saja sehingga aku merupakan anak yang selalu nyinyir bertanya pada orang yang lebih sehingga orang yang berpaham tua sangat senang padaku karena di ke ingin tahuanku itu dan aku termasuk anak yang paling suka menonton film Star Trek di televisi yang kala itu masih hitam putih dan berdesir karena gelombang sinyal lemah. Sebagai anak minang aku tidak mendapatkan perhatian penuh oleh keluargaku yang sibuk berjualan siang malam dan pengajian ku ikuti hanya sebatas membaca huruf Hijaiyah di juz Amma saja kemudian berhenti karena tidak dibekali orang tua uang minyak lampu sebagai iyuran mengaji.

Sekitar tahun 1970 diketika usiaku masuk sekolah aku mendapat pilihan bersekolah si sekolah swasta oleh keluarga non pribumi keturunan Cina marga Fu yang anaknya merupakan teman bermain ku sejak kecil namanya Fu Yau Kwang dan Fu Yau Wie akibat aturan pemerintah daerah Kab. Langkat dimana setiap anak non pribumi bila ingin bersekolah seorang anak non 8pribumi harus menanggung satu orang anak pribumi dan aku adalah pilihan dari keluarga Fu tersebut.

Aku bersekolah di Yayasan Pendidikan Ahmad Yani Kampung tanjung pekan binjai dimana sekolah itu berdekatan dengan Kelenteng Wihara Budha dan bila pilang aku selalu memotong jalan dari pagar kelenteng tersebut dimana para biksunya sangat santun dan aku sering mendapat buah  dari mereka hasil dari sedekah para jemaahnya yang sembahyang kesana.

Dinding kelenteng itu dilukisi oleh cerita neraka dan surga yang tak jauh j seperti buku cerita bergambar sorga neraka umat islam yang banyak dijual di pasaran kini.

Dikarenakan sekolah kami adalah sekolah multi agama maka seluruh agama diajarkan disana namun pelajarannya tidak mendalam sehingga tidak ada bentrok antara siswa tentang aqidah dan aku mendapatkan ajaran tentang dasar-dasar pelajaran agama Hindu, Agama Budha, Agama Kristen dan Agama Islam.

Seperti yang aku katakan dari awal dirumah sendiri aku tidak ada mengikuti pengajian kerjaku hanya bermain dan bermain siang malam bersama orang non muslim terkadang tidurku di emperan kedai yang bila hujan bilah papannya pintu aku kuakkan semampuku karena ada beberapa kedai yang pintunya tidak baik karena kedai itu hanya dijadikan gudanig sebagai syarat  agar mereka bisa berjualan dilokasi tersebut pada jam-jam tertentu karena untuk berjualan di lokasi pasar itu bila bukan pemilik kedai akan kena uang preman yang tidak sedikit, namun bila mereka memiliki kedai maka keamanan mereka dijamin negara dan kala itu yang menjadi raja premannya adalah Raja Inget suku Karo yang mendapatkan jabatan karena membunuh bos preman Melayu suku Maya-maya seorang petinju tingkat Propinsi kala itu, aku sangat dekat padanya karena aku boleh dikata 24 jam ada dipasar dan aku orangnya mau disuruh-suruh terutama membeli minuman keras yang dijual bebas sehingga para preman sangat sayang padaku, namun demikian bermain dengan anak non pribumi sudah merupakan kegiatan rutinku sehingga kami selalu mendapati tempat-tempat sesajen arwah bagi umat Budha mati sesat.

Didalam bermain terkadang kami mandi di sungai Bingai bersama dan kepalaku pernah terkurung didalam goa yang ku buat sendiri didalam air namun berkat pertolongan tukang jahit urang awak dipasar atas yang kebetulan pergi mandi di sungai maka aku terselamatkan keluar dari musibah kembali, Alhamdulillah.

Yang menjadi sumber kejadian di diriku adalah rasa keingin tahuanku dan khayalanku tentang alam lain ditambah dengan cerita-cerita komik Jan Mintaraga dan kisah kisah mistis yang saat itu sangat berkembang namun tidak memiliki ruh seiring dengan serangan kelompok Aliran baru yang berlandaskan Alqur’an dan Hadist semata sehingga aliran ini lebih mengutamakan logika yang bersifat pembuktian ilmiah maka kepandaian leluhur yang sifatnya keyakinan dikatagorikannya bid’ah dan menjadi memudar karena sumber utama keyakinan itu adalah rasa kecintaan  atau zuq akan keyakinan menjadi gersang.

Ayahku aliran Muhammadiyah Tulen, dia mengharamkan peringatan Hari Ulang Tahun, mengharamkan berdoa pakai wewangian Kemenyan, haram makan di rumah kematian, bila berdoa sendiri -sendiri lebih afdal. Kutbah Jumat tidak pakai bahasa Arab, dan sebagainya namun pendidikanku sendiri tidak dia acuhkan untuk menuntut ilmu apalagi ilmu agama sehingga berkat kemurahan Tuhan dalam membentuk ciptaannya  jua maka aku mendapat bapak angkat yang mau menyekolahkanku disekolah swasta, dan meskipun dia warga Cina keturunan tetapi sangat santun pada penduduk pribumi,

Tidak demikian kejadiannya pada saudara-saudaraku yang lain mereka dapat melanjutkan pendidikan yang dibiayai Ayahku bahkan Nenekku yang seorang khalipah Suluk Syekh Basilam dan aku tidak tau mengapa bisa demikian, mereka katakan aku anak bandal tetapi aku tidak pernah menyusahkan mereka, mereka katakan aku jahat tetapi aku tidak pernah mengganggu orang atau mencuri bahkan untuk makan aku mencarinya sendiri dengan berkuli pada orang, hanya ibukulah yang selalu perhatian padaku tetapi dia dikuncilkan oleh anak-anaknya yang berpihak pada ayahku namun kala itu aku belum berfikir mengapa terjadi seperti ini namun yang pasti dan pernah kudengar dari ibuku masalahnya hanya karena hubungan sex, ibuku tidak ingin berhubungan sex lagi, karena hubungan sex yang diterimanya tidak menyenangkan melainkan sebuah pemerkosaan yang menyakitkan dan dia tidak sanggup beranak lagi.

Ibuku postur tubuhnya sedang raut wajahnya mirip Cintami Atmanegara dia merupakan primadona ketika dikampung tetapi Ibunya Radias yang menjadi Khalifah itu tukang kawin sehingga anaknya banyak berserak dan ibuku ditinggalkannya di kampung bersama nenekku.

Dipekanbaru dia punya suami lagi dan beranak tiga orangmereka saudara ibuku lain ayah, ibuku anak tertua dibawahnya saudara lain ayah juga bernama Jusnani panggilannya Nani bertugas sebagai Bidan di Tembilahan dan punya anak perempuan 2 orang.

Dua lagi sepasang dan telah menikah juga dengan orang melayu.

Yang tua bernama Bukhari (Alm) bekerja sebagai polisi laut di Batam beristrikan orang melayu.

Dan seorang lagi bernama Juslinar panggilannya inan bersuamikan orang melayu juga dan punya anak perempuan. tinggal di Tanjung Balai Karimun semuanya pernah tinggal bersama kami di Binjai.
Sementara aku sendiri anak ke 4 dari sembilan bersaudara, 1. Abdulrahman (alm) isrtinya orang Pasie Pauah beranak sepasang Ranu dan Ica, 2. Indra Sakti (alm) istrinya orang Magek Agam beranak satu orang perempuan, 3. Muhammad Joni (aseng) dan aku kehilangan kontak. Asrul Hendri alias Buyung Binjai (aku) 5. Arneli (bersuamikan Hisar Pangaribuan yang murtad jadi Pastor menggantikan ayahnya di Halvetia Diski dan bercerai meninggalkan anak 3 orang, 1. Ranu, 2. Dani dan Mutia kemudian kembali bersuamikan Putra Aceh hingga kini. Yang ke 6. Elvira Despiyanti (alm). 7. Irwandri dan yang ke 8 santi dan 9 Ira keduanya lain ibu karena ibunya bernama Warni orang Kamang Agam.

Diantara temanku yang non pribumi aku mempunyai teman sesama orang padang juga yaitu si Pendi cucu ketua RT pekan Binjai orang Sunur dan si Topit anak Kampung Dalam cucu Pak Uban ayah si Agus penjual nasi kaki lima pada malam hari di pasar atas Kampung Cina Pekan Binjai yang kakak lelakinya tukang jagal hewan di pajak tavip, rumah mereka di kampung tanjung tetapi mereka memiliki banyak kedai di pajak tavip baik lapak kopi maupun los daging, sementara rumahku sendiri berada di Pajak Pelita dimana pajak ini merupakan perluasan pajak tavip yang sebagian tanahnya menggunakan tanah pembelian ayahku dan tanah tersebut tidak pernah dijual oleh ayahku pada pemborong si Youpun bahkan statusnya hanya pinjam pakai. Dan sebagai ganti rumah lama kami yang digusur, ayahku mendapat bangunan rumah bertingkat awalnya permanen tetapi ayahku tidak mau karena bentuknya tidak bisa digunakan untuk usaha maka oleh Si Youpun dibangunkan disebelahnya ruko semi permanen yang ukurannya dilebihkan dari ukuran biasa sementara rumah yang diperuntukkan itu dijadikan kantor Perpas yang kinisudah diperjual belikan jadi milik pribadi dan sisa tanah dibelakang kantor dibangun ayahku sebagai dapur untuk memasak jualannya dan atas dasar itu maka kami tidak memiliki surat bangunan rumah yang ada hanya surat kepemilikan tanah dan aku merasa suatu ketika kondisi ini akan menjadi masalah bagi saudaraku yang tinggal untuk itu aku selalu menganjurkan agar surat rumah itu dibuat tetapi ayahku tidak mau, baginya biarlah status rumah itu hak pakai saja sebab bila diganti dengan kepemilikan bangunan maka akan rancu karena masa bangunannya hanya 25 tahun kemudian harus diperbaharui kalau tidak kembali menjadi milik negara, untuk itu biarlah yang dimilikinya adalah tanah saja sehingga sampai kapanpun itu tetap milik kami.

Suatu ketika aku mendapat teman bicara seorang tua yang sangat tinggi wawasannya tentang alam semesta namanya Pak Yusuf orangnya punya ciri ciri khusus tangannya belang putih seperti kekurangan pikmen, dia bekerja sebagai penjaga malam di perpas, kala itu aku masih meduduki sekolah kelas 5 SD.

Setiap malam dia menguliahiku tentang kurahan diri, dan cara penyampaiannya sangat mengena namun bila ada orang lain yang mendekat maka dia memutuskan ceritanya dan bila orang tersebut telah pergi maka dia mulai kembali bercerita dan darinya aku mengetahui ilmu tentang Tashawuf.

Kuliah malamku berlangsung hingga aku tamat sekolah dasar kemudian setelah tamat dia tidak muncul lagi dan dia tidak pernah menceritakan dimana rumahnya namun dari penuturannya aku tahu dia orang Pariaman.

Kalimat yang menjadi andalannya adalah Man Arafa nafsah, Fakad Arafa Rabbah, Waman arafa rabbah, Fasaddal Jasad dimana arti menurut penuturannya adalah bila mengenal Diri maka mengenal Tuhan, bila mengenal Tuhan maka binasa jasad kalimat ini sangat hafal di lidahku meski aku sendiri tidak mengerti penjabarannya namun katanya suatu ketika nanti kamu akan memahaminya.

Secara garis besar aku adalah anak ke 4 dari 7 orang bersaudara se ayah se ibu ayahku bernama Radilas Pisang  Sikumbang ibuku bernama Asia Yetni Bicu Chaniago meski kami orang minang tetapi ayahku telah lama tinggal di Medan dan membawa ibuku merantau tanpa pernah membawanya kembali pulang kampung hingga akhir hayatnya yang meninggal dalam posisi tersangkut dikursi memendam penderitaan yang panjang.

Meski tidak ada yang aku takutkan akan berlakunya hubungan insert antara aku dengan saudaraku karena aku tidak punya keturunan namun demikian perlu juga aku sebutkan bahwa Istri Abdul Rahman abangku yang tertua adalah anak Pasie Nareh dan punya anak sepasang, abangku Indra Sakti juga punya anak perempuan tetapi aku tidak tau dimana rumahnya karena hingga meninggal dunia dia selalu menyembunyikan identitas istrinya.

Abangku Muhammad Joni (aseng) kami putus komunikasi.

Sementara adikku Arneli bersuamikan orang Batak Hisar Pangaribuan yang bercerai murtad menjadi pastor di Halvetia Diski. Namun anaknya 3 orang, dua lelaki seorang perempuan tetap Islam, kini adikku bersuamikan pemuda Aceh.

Dalam perjalanan hidupku aku selalu menemukan sanggahan sanggahan tentang langit terutama dari pelajar komunis yang membantu orang tuanya berniaga di pajak tavip:
“Yong, kau lihat langit itu,biru itu bukan biru yang sebenarnya tetapi suasana gelap bahkan hitam karena jauhnya molekuk cahaya akibat luasnya alam semesta bahkan ada yang tidak ada cahaya sama sekali seperti di lubang hitam, lantas dimana yang kau katakan langit, padahal diluar sana ada trilyunan galaksi dan planet yang berotasi sendiri-sendiri dan bahkan memiliki kehidupan lain yang penduduknya pernah datang kemari dan memberi pengetahuan pada kita sehingga kita tau akan teknologi seperti saat ini”.
Komentar ini dapat mempengaruhi pandanganku karena selaras dengan cerita film Star Trek yang selalu ku tonton di TV namun bertentangan dengan cerita dari pak Yusuf yang mengajariku tashawuf dan bahkan dari cerita biksu di wihara budha yang ku dapat saat istirahat pulang sekolah.

Dalam kehidupan sehari – hari setamat SD aku tidak melanjutkan sekolah karena pengaruh anak tek Danun (adik ibuku) si kuncuih yang mempengaruhi aku untuk pergi ke merantau Jakarta padahal saat itu aku telah mendaftar di Sekolah Teknik yang setara SMP dan lulus.

Dalam perantauan aku hanya bertahan merantau setahun saja dan akhirnya pulang ke Binjai kembali.

Kepulangan ini dikarenakan aku tidak bisa melihat perlakuan apakku yang menjadi induk semangku terhadap orang jawa yang diperlakukan seperti budak, hal inilah yang membuat aku lebih suka berada di kedai yang ada di pasar seni Ancol dan untungnya disana aku mendapat pelajaran ilmu cara melukis yang benar dan membuat lukisan siluet namun semuanya tidak bertahan lama karena aku bosan dan minta pulang dengan meninggalkan sikuncuih yang tinggal dengan kakaknya yang kuliah mengambil jurusan bahasa Jerman.

Di Binjai aku tidak serta merta melanjutkan pendidikan melainkan bekerja serabutan untuk cari makan, kadang aku melukis,bekerja pada tukang Reparasi jam bahkan jadi tukang pasang buah baju di kedai tukang jahit dan tukang cebok piring kedai nasi bahkan mengambil upah Ronda jaga malam dimana sebagian hasilnya kuberikan pada ibuku karena jualan goreng pisang tidak mencukupi kebutuhan hidup adikku yang membeban padanya.

Tahun 1983 peristiwa bersejarah dalam hidupku dimana aku menjadi anak Durhaka tanpa ku mau demi menyelamatkan Sekolah adik-adikku, sebab setamat sekolah ayahku kawin lagi sementara nafkah tidak diberinya untuk kami sehingga ibuku terpaksa menjual goreng pisang subuh-subuh di pajak karena ketika subuh para penggalas dari kampung-kampung datang menjual hasil ladangnya pada para pedagang pasar.

Hingga suatu ketika aku dipanggil oleh ayahku yang katanya ada rapat keluarga, ketika itu induk semang reparasi jam tempat aku bekerja sudah melarang aku ikut hadir katanya otak bapak ku sudah tidak beres, mungkin dia sudah tau apa yang akan dilakukan ayahku, namun yang namanya anak bagiku kepatuhan itu nomor satu maka aku ikut hadir dan kiranya rapat tersebut isinya menjahanamkan ibuku dan ayahku mengancam tidak akan membiayai adik-adikku lagi padahal ibuku tidak pernah menuntut apapun sedang anak tirinya dia bersedia mengasuhnya dengan penuh cinta.

Disinilah keputusan fenomenal yang aku ambil demi menyelamatkan generasi yang akan datang yaitu adik adikku maka kuambil jalan pintas dan kubacok ibuku dan aku menyerahkan diri ke polisi. Padahal mamak ku (kakak Ibuku saudara nenek) seorang intel yang disegani di Kepolisian Medan.

Ketika ayahku menjengukku maka kukatakan padanya pegang janji abak selamatkan adik-adikku, namun kiranya aku hanya diamankan saja dalam sel tahanan dan tidak diproses verbal karena tidak ada yang menuntut, mungkin atas jaminan mamakku di Medan hingga ketika mamakku datang menjemputku dan membawa ku ke rumah pak tuo ku di Rambung dan disana aku ditanya aku mau apa lagi dan kujawab dengan pasti Pulang Kampung.

Oleh paktuoku, aku dibekali alamat dan biaya hingga akhirnya aku terdampar di jalan melati Kampung Baru pariaman tinggal bersama adik ibuku Mami Syamreini pegawai Dinas partanian Padang pariaman bertepatan acara kolosal MTQ tahun 1983 yang termashur dengan Alquran raksasanya hasil buah karya Alimunar Amsel C. Suami dari Ibuk Sabarti kepala sekolah SMP 4. Rawang.

Tidak lama melakukan penyesuaian di pariaman aku diantar oleh Kakak sepupuku Batriwal Nasar  yang bekerja sebagai penyuluh pertanian propinsi Sumbar ke Percetakan Amsel.C untuk bekerja sekaitan aku memiliki keahlian menggambar dan telah berpengalaman membuat lukisan plank merek maupun spanduk di Binjai.

Maka bermulalah pertualanganku di Piaman laweh ini, Pak ali Munar sangat sayang padaku, aku tinggal di lokasi percetakannya dan aku selalu dibawanya raun mengitari Sumbar bahkan sering bermalam di Gadut Bukit Tinggi tempat tinggal istrinya Buk Sabarti, darinya aku mengetahui Adat Istiadat piaman dan adat Darek.

Setelah merasa nyaman tinggal di pariaman Tahun 1986 aku keluar dari Amsel C. dan melanglang buana di antero piaman.

Seluruh ibu rang piaman merupakan ibuku dan ayah rang piaman merupakan ayahku.

Disinilah aku mengenal Organisasi kemasyarakatan dan organisasi kepemudaan dengan bergabung pada Sanggar Paris dan KNPI, saat itu sedang boming karena sangat didukung pemerintah dan yang menjadi ketua baru Sanggar Paris saat itu adalah Saharman Zanhar dan ketua KNPI saat itu adalah Firman Zuhri Darab.

Disini aku mengenal Jayusdi Efendi, Cichi Wistian yutri, Alm. Ridwan Febrio, Insak, Zulfikar Pipi, Elvis Betrizon, Suardi Chaniago, Mukhlis Rahman, Elpiriadi Tumorow (Epi Paris), Hasnowelly, Fitri Nora, Mukhlisayah HB. (Niketek lis), Aminah Cendrakasih (Tata), Reres, Bagindo Joni, Nasrun Jon, Alm. Basri Segeh, Iwan Sukri, Guspen Kairul, dan Arkhy dan Jafreki termasuk orang pemerintahan seperti Asril Nur, Camaik Jala, Tarmizi Amin, Khaidir As. Firman Zuhri Darab, Zuibar Albert dan tokoh tokoh tahun 80an lainnya.

Bertahun tahun aku marang melintang di pariaman dan setiap yang kulakukan selalu berkaitan dengan pembentukan akhlak generasi, dengan melupakankan memoriku di Binjai.

Aku lahir dalam posisi baru pengalamanku di binjai menjadi pemicuku dalam membentuk generasi masa depan.

Dalam tahun 1986 itu melalui organisasi Sanggar Paris aku kembali ke Binjai mendapati ibuku masih hidup dan aku bersujud padanya minta ampun dan ibuku mengatakan aku tidak bersalah dia sangat sayang padaku hingga untuk biaya aku kembali dia mengambil subang adikku si Neli sebelah dan dijualnya untuk ongkos ku kembali ke pariaman.

Sesampai dipariaman aku mulai mengembangkan keahlianku dibidang seni hingga di tahun 1990 aku memutuskan masuk ke surau karena secara fsikologis dari awal yang kucari adalah Tuhan maka bergurulah aku pada Buya H. M. Yusuf Jamil dan disinilah aku meyakini bahwa kegaiban itu ada  karena atas karomahnya aku bisa mengaji dan paham akan alquran dengan seketika walau tanpa belajar secara formal, bahkan dalam tahun itu juga aku menjadi guru mengaji yang membawahi 90 orang santri dan juara I saat menjadi qori MTQ kecamatan Pariaman tengah utusan Depag Padang Pariaman usulan Drs. Taslim Mukhtar Kepala KUA Pariaman Tengah yang dikemudian hari menjadi kemeneg Padang Pariaman.

Meski banyak kegaiban yang ku alami namun aku tidak juga bisa mengerti sehingga aku minta izin pada Buya H.M. Yusuf jamil untuk belajar ilmu kebatinan pada Pak Razali pemilik showmill di rel kereta api Ujung Batung yang kala itu membuka perguruan di Jawi-jawi II, sehingga pak razali jadi bingung ilmu apa yang aku pakai kok bisa luar biasa hasil yang kuperoleh dan itu pernah diungkapkannya pada salah seorang temanku namun aku hanya tersenyum karena aku sama sekali bukan belajar alirannya melainkan cara membuka hijab kegaiban yang diajarkan oleh buya H.M Yusuf jamil.

Namun yang masih mengganjal pada diriku adalah tidak tuntasnya kalimat  wejangan pak Yusuf di binjai dijabarkan Buya (Man Arafa nafsah, Fakad Arafa Rabbah, Man arafa rabbah, Fasaddal Jasad).

Bagi buya kalimat itu hanya Man Arafa nafsah, Fakad Arafa Rabbah saja hingga akhir hayatnya tetap demikian.

Tahun 2000 aku keluar dari Surau untuk berusaha atas anjuran pak Lukman (Kuman bulu) agar aku berusaha diluaran jangan hanya diam di Surau.

Karena aku merasa apa yang aku cari tidak tuntas dan kondisi Mesjid Raya Pasar Pariaman kurasa sudah kacau balau sejak masuknya pembaharuan oleh H. Mada dan kawan-kawan dan aku mendengar sendiri pembicaraan mereka bagaimana mereka berbuat untuk merobah sistim ortodox mesjid raya secara perlahan dan aku merasa mereka berhasil karena mereka sangat pandai mengambil hati buya dan buya mempercayainya demi pembangunan Mesjid.

Tahun 2002 atas permintaan Saidina Umar (Alm) dan dukungan Pak Sarjan serta keluarga Mak Tuan Hander (Nusyirwan Kadir) aku menikah dengan anak pengurus mesjid Badano Tuangku Saone Kaluaik (Alm) dari keluarga besar Syekh Burhanuddin Sintuk ulakan.

Dari sini aku mulai menukar junjunganku dari Abu Bakar Siddiq RA. sang Singa Padang Pasir aliran Naksabandi kepada Ali Bin Abi Talib RA. Sang ahli Ibadah aliran Syatariyah dan bergurulah aku pada Tuangku Heri Firmansyah (Khalifah Syekh Burhanuddin Ulakan ke 15. Dan tuntaslah amanah Pak Yusuf di binjai karena setelah di Bai’at aku mendapatkan kurah “Man Arafa nafsah, Fakad Arafa Rabbah, Man arafa rabbah, Fasaddal Jasad”.

 

Hari demi hari aku mendapat pemahaman yang dimulai dengan pengenalan diri kemudian mengmbalikannya pada yang empunya diri dan kini aku mulai merasa menerima amanah hak pakai dan menjaganya dari kufur nikmat.

Perjalanan masih panjang, masih banyak tahap tahap pemahaman Ketuhanan yang harus dilalui untuk mencapai Fassaddal jasad atau Syirru jasadi namun yang pasti semuanya aku lalui karena bagiku hidup ini tidak ada gunanya selain dari mencari jati diri yang sebenarnya. Wassalam.

Terkirim dari tablet Samsung